Monday, 12 December 2016

pengertian komunikasi dakwah persuasif


1.      Pengertian Dakwah Persuasif
Dakwah merupakan bahasa Arab, berasal dari kata da’wah yang bersumber pada kata (da’a, yad’u, da’watan) yang bermakna seruan, panggilan, undangan atau do’a. Selain itu dakwah memiliki pengertian upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju Allah SWT. Perluasan berikutnya dari pemaknaan dakwah adalah aktivitas yang berorientasi pada pengembangan masyarakat muslim, antara lain dalam bentuk peningkatan kesejahteraan sosial.
Persuasif, yaitu tanpa adanya paksaan dengan mempengaruhi jiwa seseorang sehingga dapat membangkitkan kesadarannya untuk menerima dan menerima suatu tindakan. Persuasif berasal dari istilah bahasa Inggris persuation. Persuation dapat diartikan sebagai membujuk, merayu, meyakinkan, dan sebagainya. Baik koersif ataupun persuasif keduanya bertujuan mengubah perilaku, kepercayaan, dan sikap. Bedanya ialah terletak pada cara penyampaiannya. Sedangkan efektif adalah kesempurnaan dalam menyampaikan pesan yang disampaikan.
 Contohnya yaitu dakwah yang disampaikan oleh Ust. Maulana yang dapat menggugah pikiran mad’u.
Sehingga dapat dikatakan Dakwah Persuasif  adalah proses kegiatan yang mempengaruhi jiwa seseorang (mad’u) sehingga timbul kesadarannya sendiri untuk mengikuti ajakan pendakwah (da’i) dengan cara halus atau tanpa paksaan.
Tanpa kita sadari dakwah berada di kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu dalam situasi dan kondisi yang tengah ada dalam masyarakat hendaknya dapat menerapkan metode dakwah manakah yang paling pas untuk digunakan. Dakwah persuasif  harus dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki pengetahuan dan keahlian. Dakwah harus tetap dilakukan sekalipun dihadapkan dengan orang yang kemungkinannya sangat kecil untuk berubah.
Sesuai dengan teori Gestalt, seseorang itu dipersepsi sebagai suatu keseluruhan. Oleh karena itu, jika kepribadian seorang Da’i sudah dipandang tinggi oleh masyarakat mad’u, maka pesan dakwahnya juga dianggap sebagai bagian dari struktur kepribadiannya. Untuk membuat suatu dakwah itu persuasif.

2. Unsur-Unsur Dakwah
Kondisi psikologis mad'u yang berbeda-beda menyebabkan tingkat pendekatan persuasif dalam berdakwah juga berbeda-beda. Namun untuk mencapai dakwah yang persua­sif jelas ada unsur yang mendukungnya. Unsur-unsur yang menyebabkan suatu  dakwah itu per­suasif atau tidak ialah;
a.       Memiliki Konsistensi antar Amal dan Ilmunya
Seorang Da’i sekurang-kurangnya harus mengamalkan apa yang ia serukan kepada orang lain. Perbuatan seorang  Da’i tidak boleh melecehkan kata-katanya sendiri, apa yang ia demonstrasikan kepada masyarakat haruslah apa yang memang menjadi keyakinanya.
b.      Santun dan Lapang Dada
Sifat santun dan lapang dada yang memiliki seseorang merupakan indicator dari ketulusan ilmunya dan secara khusus kemampuannya mengendalikan akalnya (ilmunya) dalam praktek kehidupan. Secara psikologis, kepribadian santun dan lapang dada seorang Da’i akan membuat orang mad’u terikat perasaannya, lebih daripada pemahaman melalui pikirannya sehingga masyarakat mad’u cenderung ingin selalu mendekatinya
c.        Bersifat Pemberani
Daya tarik kepemimpinan seseorang antara lain terletak pada keberaniannya. Keberanian yang diperlukan oleh seorang Da’i sudah tentu berbeda dengan keberanian kelompok oposisi yang lebih menekankan asal berbeda, atau keberanian yang asal berani, tetapi keberanian yang konstruktif, yang sejalan dengan konsep dasar dakwah, yaitu keberanian mengemukakan kebenaran.
d.      Tidak Mengharapkan Pemberian Dari Orang
Iffah artinya hatinya bersih dari pengharapan terhadap apa yang ada pada orang lain. Seorang Da’i yang tak terlintas sedikitpun di dalam hatinya keinginan terhadap harta orang lain, maka ia dapat merasa sejajar atau bahkan lebih tinggi atau sekurang-kurangnya memiliki kemerdekaan di dalam dirinya.

e.        Qana’ah Atau Kaya Hati
Seorang Da’i boleh miskin harta, tetapi tidak boleh miskin hati, karena kaya hati (qana’ah) itu lebih tinggi nilainya dibanding kekayaan harta. Dalam perspektif psikologi, orang yang memiliki harta melimpah tetapi masih merasa banyak kekurangan dan tidak sempat berpikir untuk memberikan pada orang lain, maka ia adalah orang miskin.
f.          Kemampuan Berkomunikasi
Dakwah adalah mengkomunikasikan pesan kepada mad’u. komunikasi dapat dilakukan dengan lisan, tulisan atau perbuatan, dengan bahasa kata-kata atau bahasa perbuatan. Komunikasi dapat berhasil manakala pesan dakwah itu dipahami oleh mad’u. Jadi,seorang Da’i dituntut dapat menggunakan metode yang tepat dalam mengkomunikasikan pesan dakwahnya.
g.          Memiliki Rasa Percaya Diri dan Rendah Hati
Seorang Da’i harus memiliki rasa percaya diri, yakni bahwa selama dakwahnya dilandasi oleh keikhlasan dan dijalankan dengan memakai perhitungan yang benar dan mengharap ridha Allah, insyaAllah akan membawa manfaat.
Dakwah persuasif sendiri ialah kegiatan berdakwah dengan menggunakan metode  komunikasi persuasif yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima atau mad’u. Dan tujuan itu akan berhasil manakala seorang Da’i mampu menyampaikan dakwahnya dengan pendekatan psikologis.

    dalam al-qur’an telah dijelaskan tentang langkah dakwah persuasif yaitu dalam
    surat Ali imran ayat 159 yang artinya:
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (Q.S. Ali Imran/3: 159).



komunikasi antar budaya

Pengertian Bahasa, Budaya, dan Komunikasi
Bahasa selalu berkaitan dengan budaya dan komunitas para penggunanya. Bahasa dan budaya adalah dua wujud yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa menjadi salah satu alat ekspresi budaya bagi penggunanya, sementara budaya merupakan muatan nilai yang menjadi kekuatan bahasa dalam memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Perhimpitan kedua wujud tersebut, salah satunya tampak dalam aktivitas komunikasi, bahasa diakui sebagai alat komunikasi yang paling efektif.
Haviland 1988, mendefinikan kebudayaan sebagai “seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilakukan akan melahirkan perilaku yang oleh para anggotanya sendiri dipandang layak dan dapat diterima”. Karena itu, budaya senantiasa berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berfikir, merasa, memercayai dan mgnusahakan apa yang patut menurut budayanya.

Setiap tindakaan sosial yang diperankannya, termasuk praktik-praktik komunikasi, muncul berdasarkan pola-pola budaya. Dengan kata lain, kebudayaan itu sendiri bukan perilaku yang kelihatan, melainkan lebih merupakan nilai-nilai dan kepercayaan yang digunakan oleh manusia untuk memberikan tafsiran-tafsiran terhadap pengalamannya yang pada akhirnya menimbulkan perilaku. Jadi, kebudayaan adalah sejumlah cita-cita, nilai dan standar perilaku, sebagai sebutan persamaan yang  menyebabkan perbuatan setiap individu daspat dipahami oleh kelompoknya.

Secara implisit, pemahaman tentang kebudayaan tersebut mengisyaratkan adanya ketelibatan komunikasi. Sebagaimana disebutkan di atas komunikasi beruhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. Oleh karena itu, para antropolog memendang perlu memahami fungsi bahasa dalam setiap kebudayaan terutama sebagai fasilitas untuk dapat mengomunikasikan pengalaman, keprihatinan, dah kepercayaan dari waktu ke waktu, serta meneruskannya kepada generasi berikutnya..

masyarakat madani

Upaya Mewujudkan Masyarakat Madani di Indonesia
       Indonesia memiliki tradisi kuat masyarakat madani (civil society). Bahkan jauh sebelum Negara bangsa berdiri, masyarakat sipil telah berkembang pesat yang diwakili oleh kiprah beragam organisasi sosial keagamaan dan pergerakan nasional dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Selain berperan sebagai organisasi perjuangan penegakan HAM dan perlawanan terhadap kekuasaan colonial, organisasi berbasis islam, seperti syariat islam(NU) dan muhammadiyah, tela menunjukkan kiprahnya sebagai komponen civil society yang penting dalam sejarah perkembangan masyarakat sipil diindonesia. Sifat kemandirian dan kesukarelaan para pengurus dan anggota organisasi tersebut merupakan karakter khas dari sejarah masyarakat madani Indonesia.
       Terdapat dua factor yang mempengaruhi masyarakat madani, yaitu factor pendorong dan factor penghambat.
       Beberapa factor pendorong timbulnya masyarakat madani:
1.      Adanya penguasa politik yang cendrung mendominasi(menguasai) masyarakat agar patuh dan taat kepada penguasa.
2.      Masyarakat diasumsikan sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan yang baik(bodoh) dibandingkan dengan penguasa( pemerintah).
3.      Adanya usaha untuk membatasi ruang gerak dari masyarakat dalam kehidupan politik. Keadaan ini menyulitkan bagi masyarakat untuk mengemukakan pendapat, karena ruang public yang bebaslah individu berada dalam posisi setara, dan melakukan transaksi.

     Untuk membangun masyarakat madani diindonesia, ada enan factor yang harus diperhatikan, yaitu:
1.      Adanya perbaikan disektor ekonomi, dalam rangka peningkatan pendapat masyarakat dn dapat mendukung kegiatan pemerintahan.
2.      Timbulnya intelektualitas dalam rangka membangun manusia yang memiliki komitmen untuk independen.
3.      Terjadinya pergeseran budaya yang lebih modern dan lebih independen.
4.      Berkembangnya berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam.
5.      Adanya partisipasi aktif dan menciptakan tata pamong yang bai.
6.      Adanya keimanan dan ketakwaan kepada tuhan yang melandasi moral kehidupan.
     Menurut Diwam, ada tiga strategi yang salah satunya dapat digunakan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat madani bis aterwujud di Indonesia:
1)      Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi ini berpandangan bahwa strategi demokrasi tidak mungkin berlabgsung dalam m,asyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat.bagi penganut pelaksanaan demokrasi liberal hanya ada yang akan menimbulkan komflik dank arena itu menjadi sumber instabilitas politik saat ini yang diperlukan adalah stabilitas politik sebagai landasan pembanguna, karena pembangunan, lebih-lebih yang terbuka terhadap perekonomian global membutuhkan rosiko politik yang minim. Dengan demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari demokrasi.
2)      Strategi yang lebih mengutamakan reformasi politik demokrasi. Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak perlu menunggu rampangnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal dan scara bersama-sama diperlukan proses demokratisasi yang pada esensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika karangka kelembagaan ini diciptakan. Maka akanada sendirinya timbul civil society yang mampu mengontrol terhadap negara.
3)      Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis yang kuat kearah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi dan strategi